Mengapa Harus Konstruktivistik ?
Juli 19, 2007 oleh fendi achmad
Eksistensi dan daya survival suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia ( SDM ) yang dimiliki bangsa tersebut. Semakin tinggi kualitas SDM sebuah bangsa,makin eksis bangsa tersebut. Sebaliknya,semabkin rendah kualitas SDM sebuah bangsa, pertanda semakin bergantungnya bangsa tersebut kepada bangsa lain. Jacques Attali, seorang penulis berkebangsaan Perancis, pada tahun 1991 menulis buku Millenium : Winners and Lossers in the Coming World Order. Menurut Attali, memasuki millennium ketiga, manusia tersegmentasi menjadi dua kelompok besar, yakni kelompok pemenang ( the winners ) dan kelompok pecundang ( the Lossers ). The Winners adalah mereka yang terdidik ( educated ), otonom secara pribadi, berketrampilan, berdaya adaptibilitas tinggi, memiliki kemampuan ekonomi kuat, dan menguasai multiakses. Adapun the Lossers ditandai dengan kemampuan ekonomi rendah, berpendidikan rendah, tidak dimiliki ketrampilan professional yang memadai, akses informasi terbatas, underestimate, daya adaptasi rendah, gizi dan kesehatan yang memprihatinkan, dan tempat bermukim yang seadanya. Di penghujung tahun 1990-an, masih menurut Attali, mereka yang masuk kelompok pecundang ini diperkirakan miliaran jumlahnya, dan bermukim di luar kawasan Pasifik dan Eropa. Kelompok ini berjalan tergagap-gagap memasuki era pasar bebas. Mereka ini akan menjadi makanan empuk kelompok-kelompok pemenang. Di depan pelupuk mata, saat ini kita bisa melihat bagiamana negara-negara dunia ketiga telah “dibantai” dengan ganas oleh negara-negara maju dalam kancah pasar bebas. Di kancah ini, Negara-negara dunia ketiga bak kerbau dicocok hidungnya dituntun oleh bangsa-bangsa maju ke sumur yang akan membunuh mereka. Mengapa bisa terjadi ihwal seperti ini ? Hal ini karena era miulenium ke 3,yang juga disebut era globalisasi, telah melahirkan tekanan-tekanan budaya kompetisi yang begitu dahsyat. Menurut Daniel Bell (1978) dalam bukunya The Cultural Contradiction of Capitalism, memaparkan bahwa aneka persekutuan ekonomi seperti European Union ( EU ) di Eropa, North American Free Trade Area ( NAFTA ), di Amerika Utara, Asian Pacific Economic Cooperation ( APEC ) di Asia dan Pasific, serta Asean Free Trade Area ( AFTA ) di Asia Tenggara memutlakkan kemampuan suatu masyarakat bangsa untuk siap bermitra sekaligus berkompetisi secara sehat dan bermutu. Di sinilah masalah yang sesungguhnya. Ketika harus memasuki area kompetisi yang mengandalkan mutu, bangsa-bangsa dunia ketiga sudah jauh kalah start, maka wajar jika akan terus menerus akan menjadi pecundang. Kehadiran era pasar bebas telah mendorong kelahiran ide-ide baru ( competition for new ideas ), tuntutan akan kualitas manusia organisasional yang secara kontinu mampu merekayasa diri menjadi manusia pembelajar agar tetap berada pada posisi yang bersesuaian dengan kemajuan iptek, dinamika sosial, dan kemanusian pada umumnya. Kualitas-kualitas demikian belum begitu menjadi budaya di negara-negara ke tiga. Di samping itu, area kompetisi juga mensyaratkan multi akses. Hal ini karena, menurut Ervin Laszlo ( 1997 ) dalam bukunya 3rd Millineum : The Challenge and The Vision, pada era globalisasi, kehidupan dan aktivitas penghuni bumi banyak dipengaruhi dan dibangun oleh informasi global, dampak lingkunan global, pasar global, tehnologi global ; serta keputusan-keputusan politik, manajerial, professional, dan gaya hidup global. Sementara itu, pada bangsa-bangsa dunia ketiga, karena satu dan lain hal, multi akses ini masih menjadi barang mewah alias kebutuhan tersier. Lalu, sebagian dari masyarakat Indonesia berada pada kelompok mana, The Winners atau The Lossers ? Menurut Prof.Dr.Sudarwan Danim dalam bukunya Menjadi Komunitas Pembelajar, sebagian masyarakat Indonesia adalah pemenang, dan sebagaian lagi yang mungkin prosentasenya lebih besar,menjadi pecundang……. fenomena Indonesia yang terpuruk ini merupakan korban otoritarianisme Orde Baru, proses pemiskinan yang berlangsung lama, proses pembodohan yang pelan-pelan tapi pasti, konglomerasi yang gagal memberdayakan rakyat akibat kegagalan logika trickle down effect, dan sebagainya. Barangkali yang pertama harus diperhatikan dari pendapat tersebut adalah telah terjadi pembodohan secara konsisten pada bangsa kita. Memang telah menjadi keprihatinan bersama mengenai rendahnya mutu pendidikan kita, termasuk dibanding negara-negara yang baru merdeka sekalipun. Penilaian Human Development Indek ( HDI ) menempatkan Indonesia di peringkat 112 dari 126 negara, dan satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi The Third International Mathemathics and science Study-Repeat tahun 1999, melaporkan dari 38 negara di Asia, Australia dan Afrika, siswa SLTP Indonesia menduduki peringkat 32 untuk IPA dan 34 untuk matematika ( Tim Broad Based Education, Depdiknas,2002 ). Untuk memperbaiki mutu pendidikan ini, banyak ahli dan mereka yang berkompeten di bidang pendidikan telah banyak mengemukakan argumennya untuk mencari problem solving atas masalah tersebut. Pemerintah pun, dalam hal ini Depdiknas, telah mengambil langkah-langkah untuk mendongkrak mutu pendidikan nasional ini. Langkah-langkah dimaksud antara lain : revisi kurikulum pendidikan, revisi system evaluasi, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, pelatihan guru/dosen, sampai diundangkannya system pendidikan nasional., yang di dalamnya memuat aturan-aturan yang memungkinkan masyarakat luas lebih dapat berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pendidikan. Selain itu, otoritas pengambilan keputusan yang selama ini tersentral ke pusat telah digeser ke masing-masing sekolah untuk memperbaiki mutu pendidikan.
Namun, sejauh ini belum tampak hasil yang menggembirakan. Setiap selesai pelaksanaan Ujian Akhir masih selalu kita melihat nilai-nilai yang jeblok; kita juga masih selalu melihat lulusan-lulusan kita –termasuk sarjana sekalipun- yang tidak siap memasuki dunia kerja, apalagi membuka lapangan kerja sendiri; karya-karya akademik juga masih sedikit dihasilkan oleh kaum terpelajar kita; perusahaan-perusahaan PMA masih harus memberi training skills untuk menyesuaikan kapabilitas output pendidikan kita dengan dunia industri; dan perusahaan-perusahaan jasa tenaga kerja masih mengirimkan tenaga-tenaga kasar atau buruh rumah tangga ke luar negeri, bukan tenaga terampil, apalagi tenaga ahli. Pertanyaan yang harus serius kita renungkan adalah “Ada dosa apa dengan dunia pendidikan kita ?” Untuk mencari kesalahan sebuah system haruslah dievaluasi dari paradigma yang digunakan. Karena paradigma ini yang menentukan arah,tujuan, dan metode untuk mewujudkan tujuan tersebut. Sebagaimana halnya Orde Baru yang mengambil paradigma trickledown effect untuk menciptakan kemakmuran bangsa ini, setelah berjalan lebih dari 30 tahun ternyata perekonomian bangsa ini menjadi porak poranda tidak karuan. Maka orang langsung menuding bahwa penyebab utama dari krisis multidimensional yang dialami bangsa ini adalah akibat logika yang salah pada paradigma trickledown effect tersebut.
Demikian pulalah dengan system pendidikan kita, jika ingin mencari penyebab keruwetan dalam system pendidikan, haruslah langsung menukik pada paradigma yang digunakan, tidak sekedar berputar-putar di periferinya saja seperti yang dilakukan saat ini. Sebenarnya masalah ini telah dibahas oleh beberapa ahli pendidikan kita, baik melalui media masa maupun forum-forum ilmiah. Semenjak kemerdekaan, bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa-bangsa lain, telah mengambil model atau aliran behavioristik sebagai paradigma system pendidikannya. Kaum behavioristik meyakini bahwa perilaku merupakan kumpulan reflek-reflek yang diakibatkan oleh proses conditioning.Reflek-reflek ini kalau berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Perilaku sebagai akibat pembiasaan ini dinamakan hasil belajar.
Dengan meyakini bahwa perilaku, yang merupakan hasil belajar, berasal dari pengkondisian refleks-refleks, kalangan behaviorist berasumsi bahwa : 1) Proses belajar dapat berlangsung dengan tanpa mempertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik. Potensi peserta didik hanya menentukan tingkat kecepatan perubahan perilaku sebagai hasil belajar; 2) Proses belajar dapat berlangsung tanpa mempertimbangkan kesadaran dan kemauan peserta didik. Menurut mereka, kemauan ini bisa dimunculkan dengan pengkondisian,yakni melalui reward dan punishment. Dengan demikian, bisa dimengerti jika kaum behaviorist ini mengembangkan sebuah model pembelajaran teacher centered. Tujuan Pembelajaran ditentukan oleh pengajar atau institusi, peserta didik tidak perlu punya kehendak sendiri. Segala macam potensi peserta didik harus diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Implikasinya :
• Materi Pelajaran hanya ditentukan oleh institusi dan pengajar. Pengajar aktif menerangkan materi pelajaran, peserta didik hanya memasukkan materi tersebut ke dalam otaknya. Setelah periode tertentu dilakukan evaluasi berupa menjawab soal-soal yang berasal dari materi yang diterangkan tadi. Bisa dikatakan, guru telah menjadi satu-satunya sumber belajar peserta didik.
• Model reward dan punishment merupakan satu-satunya cara untuk merangsang motivasi belajar. Pengkondisian ini harus diakui cukup berhasil. Peserta didik kita menjadi giat belajar untuk memperoleh nilai tinggi ( mengejar reward dan menghindari punishment ). Pengejaran tersebut seolah telah menjadi tujuan belajar itu sendiri. Mereka telah melupakan bahwa belajar adalah untuk mengembangkan segala potensi diri dan memperoleh ketrampilan untuk hidup mereka kelak.
• Tak jarang menjadikan peserta didik sebagai alat mencapai kebanggaan institusi. Salah satu kriteria untuk disebut sekolah unggul adalah jika sebagian besar besar lulusannya memperoleh Danem tinggi. Untuk mencapai itu, kebanyakan sekolah-sekolah kita memberi pelajaran tambahan untuk latihan mengerjakan soal-soal yang di-UAN-kan. Akibatnya, segala potensi, kemauan, dan waktu peserta didik terserap ke sini. Dari uraian di atas jelas bahwa model pendidikan yang dikembangkan oleh kelompok behavioristik tidak memberi ruang bagi pengembangan dan aktualisasi potensi-potensi peserta didik yang beraneka ragam; peserta didik tidak diberi kesadaran bahwa selain guru, sangat banyak sumber-sumber belajar yang ada di sekitarnya yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri; peserta didik tidak pernah diberi kesempatan memilih materi pelajaran yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan riil di sekitar mereka; dan yang paling fatal, sangat jarang peserta didik diberi metode cara belajar. Akibat dari itu semua, peserta didik kita telah belajar dalam situasi “terpaksa” dan “tekanan”. Belajar menjadi sebuah situasi yang tidak nyaman. Padahal, belajar akan memperoleh hasil maksimal hanya dalam situasi yang nyaman dan aman. Maka tak heranlah jika prestasi peserta didik kita banyak yang jeblok dan mereka seperti menjadi orang bingung setelah lulus. Seperti telah panjang lebar diuraikan di atas bahwa masa depan memerlukan insan-insan yang memiliki daya kompetisi dan berdaya-suai yang tinggi, dalam arti mampu terus menerus memperbarui diri dengan jalan belajar sepanjang hayat, maka model pembelajaran behavioristik harus mulai di tinggalkan. Harus dicari model alternatif.
Sejak beberapa tahun lalu, di dunia pendidikan kita telah mulai disebut-sebut model alternatif tersebut, yakni model pembelajaran Konstruktivistik. Bagaimanakah model pembelajaran ini ? Literatur-literatur yang membahas model ini secara detail memang masih belum banyak ditemukan, terutama oleh penulis. Oleh karena itu, di sini hanya akan dikupas pokok-pokok model konstruktivistik secara global. Gambaran umum model pengajaran konstuktivistik adalah model pembelajaran yang, antara lain, sebagai berikut :
• Menghargai keanekaragaman peserta didik. Implikasinya : pendidik harus menggunakan berbagai macam pendekatan sesuai karakteristik peserta didik, menyesuaikan kecepatan pengajarannya dengan tingkat penyerapan peserta didik yang berbeda-beda,dll.
• Meletakkan keberhasilan proses pembelajaran lebih besar dipundak peserta didik daripada di tangan pendidik. Implikasinya : pendidik harus memberikan bertbagai metode belajar kepada peserta didik sehingga mereka mampu belajar secara mandiri, mempercayai bahwa peserta didik merupakan mahluk normal yang mampu menguasai materi yang harus diselesaikan dan pendidik sebagai fasilitator dan motivator, dll
• Memberi kesempatan peserta didik mengekspresikan pikiran dan penemuannya. Implikasinya: pendidik harus mengurangi alokasi waktunya di dalam kelas untuk berceramah dan. memberi waktu yang luas kepada peserta didik untuk saling berikteraksi dengan temannya maupun dengan pendidiknya. Membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mengerjakan tugas-tugas dan mempresentasikan di kelas.
• Mendorong peserta didik mampu memanfaatkan sumber belajar yang ada di lingkungannya. Implikasinya : pendidik harus mendesign materi pelajarannya sedemikian rupa sehingga peserta didik terdorong untuk mencari sumber-sumber pengetahuan dari berbagai tempat di luar fasilitas sekolah, misalnya : perpustakaan kota, internet, media masa, wawancara dengan orang-orang yang ahli di bidangnya, dll.
• Memasukkan penugasan portofolio sebagai salah satu alat penilaian. Impilikasinya : pendidik harus memberi kesempatan lebih luas kepada peserta didik secara individu dalam bentuk pembimbingan untuk mengerjakan penugasan tersebut. Dalam peranan ini pendidik juga harus mampu mendorong peserta didik untuk mencari penemuan-penemuan baru, meski dalam level sekecil apapun.
Yang perlu dipahami bahwa model pembelajaran konstruktivistik bisa menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh lingkungan belajar yang tepat. Tujuan dari model konstruktivistik ini adalah untuk mencaiptakan insan-insan pembelajar, insan-insan yang senantiasa terdorong untuk mengembangkan diri melalui belajar. Bukan pembelajar yang hanya puas setelah materi yang ditargetkan telah dikuasai. Untuk mendorong munculnya mental pembelajar, maka istitusi pendidikan harus diciptakan sebagai masyarakat pembelajar. Semua elemen di dalam lingkungan ini harus didorong untuk menjadi manusia pembelajar. Artinya, model konstruktivistik akan mencapai hasil yang optimal hanya jika diterapkan dalam lingkungan manusia pembelajar.
Selanjutnya, lingkungan seperti dimaksud di atas tidak akan bisa diwujudkan di dalam sebuah institusi yang menggunakan management birokrasi yang formalis dan rigid. Management seperti itu akan mereduksi kesempatan partisipasi, kreatifitas, dan inovasi level bawah, yang merupakan komunitas terbesar. Hal ini karena berbagai kebijakan diambil dengan pola top down. Oleh karena, seluruh institusi pendidikan harus meninggalkan model ini. Harus dikembangkan model management yang memberi ruang bagi segenap elemen di dalamnya untuk berpartisipasi,berkreasi, dan berinovasi dalam menjalankan tugas-tugasnya. Karena, hanya dengan memberi ruang demikian, manusia terdorong untuk terus menerus belajar dan mengembangkan diri. Untuk mencapai maksud tersebut, di semua level management harus diterapkan Learning Organization. Jika tidak, cita-cita menghasilkan pelajar dan mahasiswa pembelajar hanyalah sebuah utopia.
Ditulis dalam Artikel Pendidikan | & Komentar
3 Tanggapan
1. di/pada Oktober 3, 2007 pada 3:57 am | Balas askar
tulisan ini cukup membantu saya mengenali lebih jauh tentang konstruktivistik
2. di/pada Oktober 17, 2008 pada 5:14 am | Balas Rudi
klo hemat saya sebenarnya bukan masalah konstruktifistik atau bukan, tetapi kerangka ilmu yang belum didapatkan pada peserta didik saat ini. Artinya peserta didik saat ini hanya diberi kulit kulit ilmu. akibatnya tidak dapat memahami ilmu secara bulat. Klo kita berkiblat ke eropa atau USA yang dikatakan sebagai negara maju, tapi ingat fakta sejarah menunjukkan USA dan Eropa hanyalah hasil jiplakan persis Yunani dan babylon yang terbukti hancur berkeping keping. meski saat ini masih jaya. Pak karno bilang jangan tinggalkan sejarah krn trend akan berulang.
Dilihat dari definisi maka ilmu adalah informasi, maka yang terpenting bagi siswa adalah bisakah siswa mendapatkan informasi sebulat bulatnya tentang ilmu tersebut, masalah konstruktifistik atau bukan adalah masalah teknis yg masing masing punya keunggulan dan cocok atau tidaknya tergantung tantangan dan situasi pd saat diterapkan.
dr mhsw semester 4.
3. di/pada Oktober 20, 2008 pada 8:45 am | Balas Rohadieducation
Mas Rudi, saya setuju pendapat Anda. Tapi, coba Anda amati, cara kita belajar selama ini; selama ini kita hanya dijejali dengan informasi-informasi yang sudah jadi. Tapi, apa kita pernahdiajari cara mencari ilmu ( baca tulisan saya dengan judul ‘Pendidikan Yang Epistemologi ). Nah. model konstruktivistik ini menggeser paradigma belajar dari “apa” ke “mengapa” dan “bagaimana”.
Terima ksih atas tanggapannya. Salam kenal.
http://rohadieducation.wordpress.com/2007/07/19/mengapa-harus-konstruktivistik/
MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK
SEBAGAI ALTERNATIVE MENGATASI MASALAH PEMBELAJARAN
Oleh: Dina Gasong
1. Pengantar
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu pesat pada era globalisasi, membawa perubahan yang sangat radikal. Perubahan itu telah berdampak pada setiap aspek kehidupan, termasuk pada system pendidikan dan pembelajaran. Dampak dari perubahan yang luar biasa itu terbentuknya suatu ‘kumonitas global’, lebih parah lagi karena komunitas global itu ternyata tiba jauh lebih cepat dari yang diperhitungkan: revulusi informasi telah menghadirkan dunia baru yang benar-benar hyper-reality.
Akibat dari perubahan yang begitu cepatnya, manusia tidak bias lagi hanya bergantung pada seperangkat nilai, keyakinan, dan pola aktivitas social yang konstan. Manusia dipaksa secara berkelanjutan untuk menilai kembali posisi sehubungan dengan factor-faktor tersebut dalam rangka membangu sebuah konstruksi social-personal yang memungkin atau yang tampaknya memungkinkan. Jika masyarakat mampu bertahan dalam menghadapi tantangan perubahan di dalam dunia pengetahuan, teknologi, komunikasi serta konstruksi social budaya ini, maka kita hasrus mengembangkan proses-proses baru untuk menghadapi masalah-masalah baru ini. Kita tidak dapat lagi bergantung pada jawaban-jawaban masa lalu karena jawaban-jawaban tersebut begitu cepatnya tidak berlaku seiring dengan perubahan yang terjadi. Pengetahuan, metode-metode, dan keterampilan-keterampilan menjadi suatu hal yang ketinggalan zaman hamper bersamaan dengan saat hal-hal ini memberikan hasilnya. Degeng (1998) menyatakan bahwa kita telah memasuki era kesemrawutan. Era yang datangnya begitu tiba-tiba dan tak seorang pun mampu menolaknya. Kita harus masuk di dalamnya dan diobok-obok. Era kesemrawutan tidak dapat dijawab dengan paradigma keteraturan, kepastian, dan ketertiban. Era kesemrawutan harus dijawab dengan paradigma kesemrawutan. Era kesemrawutan ini dilandasi oleh teori dan konsep konstruktivistik; suatu teori pembelajaran yang kini banyak dianut di kalangan pendidikan di AS. Unsure terpenting dalam konstruktivistik adalah kebebasan dan keberagaman. Kebebasan yang dimaksud ialah kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan pa yang mampu dan mau dilakukan oleh si belajar. Keberagaman yang dimaksud adalah si belajar menyadari bahwa individunya berbeda dengan orang/kelompok lain, dan orang/kelompok lain berbeda dengan individunya.
Alternative pendekatan pembelajaran ini bagi Indonesia yang sedang menempatkan reformasi sebagai wacana kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan hanya di bidang pendidikan, melainkan juga di segala bidang. Selama ini, wacana kita adalah behavioristik yang berorientasi pada penyeragaman yang pada akhirnya membentuk manusia Indonesia yang sangat sulit menghargai perbedaan. Perilaku yang berbeda lebih dilihat sebagai kesalahan yang harus dihukum. Perilaku manusia Indonesia selama ini sudah terjangkit virus kesamaan, virus keteraturan, dan lebih jauh virus inilah yang mengendalikan perilaku kita dalam berbangsa dan bernegara.
Longworth (1999) meringkas fenomenan ini dengan menyatakan: ‘Kita perlu mengubah focus kita dan apa yang perlu dipelajari menjadi bagaimana caranya untuk mempelajari. Perubahan yang harus terjadi adalah perubahan dari isi menjadi proses. Belajar bagaimana cara belajar untuk mempelajari sesuatu menjadi suatu hal yang lebih penting daripada fakta-fakta dan konsep-konsep yang dipelajari itu sendiri’.
Oleh karena itu, pendidikan harus mempersiapkan para individu untuk siap hidup dalam sebuah dunia di mana masalah-masalah muncul jauh lebih cepat daripada jawaban dari masalah tersebut, di mana ketidakpastian dan ambiguitas dari perubahan dapat dihadapi secara terbuka, di mana para individu memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukannya untuk secara berkelanjutan menyesuaikan hubungan mereka dengan sebuah dunia yang terus berubah, dan di mana tiap-tiap dan kita menjadi pemberi arti dari keberadaan kita. Beare & Slaughter (1993) menagaskan, ‘Hal ini tidak hanya berarti teknik-teknik baru dalam pendidikan, tetapi juga tujuan baru. Tujuan pendidikan haruslah unutk mengembangkan suatu masyarakat di mana orang-orang dapat hidup secara lebih nyaman dengan adanya perubahan daripada dengan adanya kepastian. Dalam dunia yang akan datang, kemampuan untuk menghadapi hal-hal baru secara tepat lebih penting daripada kemampuan untuk mengetahui dang mengulangi hal-hal lama.
Kebutuhan akan orientasi baru dalam pendidikan ini terasa begitu kuat dan nyata dalam berbagai bidang studi, baik dalam bidang studi eksakta maupun ilmu-ilmu social. Para pendidik, praktisi pendidikan dan kita semua, mau tidak mau harus merespon perubahan yang terjadi dengan mengubah paradigma pendidikan. Untuk menjawab dan mengatasi perubahan yang terjadi secara terus-menerus, alternative yang dapat digunakan adalah paradigmna konstruktivistik.
2. Hakikat Pembelajaran Behavioristik dan Pembelajaran Konstruktivistik
a. Hakikat Pembelajaran Behavioristik
Thornike, salah seorang penganut paham behavioristik, menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang sisebut stimulus (S) dengan respon ® yang diberikan atas stimulus tersebut. Pernyataan Thorndike ini didasarkan pada hasil eksperimennya di laboratorium yang menggunakan beberapa jenis hewan seperti kucing, anjing, monyet, dan ayam. Menurutnya, dari berbeagai situasi yang diberikan seekor hewan akan memberikan sejumlah respon, dan tindakan yang dapat terbentuk bergantung pada kekuatan keneksi atau ikatan-ikatan antara situasi dan respon tertentu. Kemudian ia menyimpulkan bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Oleh karena itu, menurut Hudojo (1990:14) teori Thondike ini disebut teori asosiasi.
Selanjutnya, Thorndike (dalam Orton, 1991:39-40; Resnick, 1981:13) mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hokum-hukum berikut: (1) Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila asosiasi antara stimulus dan respon serting terjadi, maka asosiasi itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hokum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan – yang telah terbentuk akibat tejadinya asosiasi antara stimulus dan respon – dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat; (2) Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal ini berarti (idealnya), jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.
Penganut paham psikologi behavior yang lain yaitu Skinner, berpendapat hamper senada dengan hokum akibat dari Thorndike. Ia mengemukakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus – respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negative. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negative adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku (Bell, 1981:151).
b. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata, http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.).
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
3. Aspek-aspek Pembelajaran Konstruktivistik
Fornot mengemukakan aaspek-aspek konstruktivitik sebagai berikut: adaptasi (adaptation), konsep pada lingkungan (the concept of envieronmet), dan pembentukan makna (the construction of meaning). Dari ketiga aspek tersebut oleh J. Piaget bermakna yaitu adaptasi terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru perngertian orang itu berkembang.
Akomodasi, dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bias jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi terjadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidaksetimbangan (disequilibrium). Akibat ketidaksetimbangan itu maka tercapailah akomodasi dan struktur kognitif yang ada yang akan mengalami atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidaksetimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai keberhasilan. Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi optimum.
Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.
Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, funsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Pengetahuan berjenjang tersebut seperti pada sekema berikut.
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu: pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas. (Pranata, http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.
Pengetahuan berjenjang tersebut dapat digambarkan seperti pada skema berikut:
Secara singkat teori Peaget dan Vygotsky dapat dikemukakan dalam table berikut ini.
Tabel 1 Piagetian and Vygotskyan Constructivism
Piagetian Constructivism Vygotsky Constructivism
Concept constructivism focus on individual cognitive development through co-constructed learning environments with national, decontextualized thinking as the goal of development Vygotsky, in order to understand human development, a multilevel analysis using all four levels of history must be employed: sosiocultural constructivism,
Subject of Study Focus on the development of autonomous cognitive forms within the individual, culminating in rational thought that is decentered from the individual. argued that individual development cannot be understood without reference to the interpersonal and institutional surround which situates the child
Develop-ment of cognitive forms the structure of the mind is the source of our understanding of the world.
the construction of knowledge occurs through interaction in the social world. Thus for Vygotsky the development of cognitive forms occurs by means of the dialectical relationship between the individual and the social context
Pembelajaran konstruktivistik dan pembelajaran behavioristik yang dikemukakan oleh Degeng dapat dilihat pada table-tabel berikut.
Table 2
Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang belajar dan pembelajaran.
Konstruktivistik Behavioristik
Pengtahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu. Pengetahuan adalah objektif, pasti, dan tetap , tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.
Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna seta menghargai ketidakmenentuan. Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar.
Si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Si belajar akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar itulah yang harus dipahami oleh si belajar.
Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistic. Fungsi mind adalah menjiplak struktur pengetahuan melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan.
Table 3
Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang
Penataan Lingkungan Belajar
Konstruktivistik Behavioristik
Ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan, Keteraturan, kepastian, ketertiban
Si belajar harus bebas. Kebebasan menjadi unsure yang esensial dalam lingkungna belajar. Si belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin.
Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah subjek yang harus memapu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Si belajar adalah objek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan.
Control belajar dipegang oleh si belajar. Control belajar dipegang oleh system yang berada di luar diri si belajar.
Table 4 Pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang Tujuan Pembelajaran
Konstruktivistik Behavioristik
Tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn) Tujuan belajar ditekankan pada penambahan pengetahuan.
Tabe 5 pandangan Konstruktivistik dan behavioristik tentang strategi pembelajaran
Konstruktivistik Behavioristik
Penyejian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke-bagian.
Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si belajar.
Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis.
Pembelajaran menekankan pada proses. Penyajian isi menekankan pada keterampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan.
Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat.
Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.
Pembelajaran menekankan pada hasil
Tabe 6 Pandangan Konstruktivistik dan Behavioristik tentang evaluasi
Konstruktivistik Behavioristik
Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata.
Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar
Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermkana serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. evaluasi menekankan pad aketerampilan proses dalam kelompok. Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan ‘paper and pencil test’
Evaluasi yang menuntu satu jawaban benar. Jawaban benar menunjukkan bahwa si-belajar telah menyelesaikan tugas belajar.
Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasnaya dilakukan setelah kegiatan belajar dengan penekanan pada evaluasi individual.
4. Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik
Berdasarkan teori J. Peaget dan Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut:
Pertama, identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi. Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview
Kedua, penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
Ketiga orientasi dan elicitasi, situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topic yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala fisika yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Oengungkapan gagasan tersebut dapat memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasan-gagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif.
Keempat, refleksi. Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.
Kelima, resrtukturisasi ide, (a) tantangan, siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alas an untuk mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas. Siswa akan daapt melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual. Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.
Keenam, aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan.
Ketujuh, review dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat sangar resisten. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa bersangkutan.
5. Penutup
Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengatasi beraneka ragam persoalan dalam pembelajaran yang semakin rumit, maka pembelajaran behavioristik yang selama ini telah digunakan selama bertahun-tahun, tampaknya tidak mampu lagi menjawab semua persoalan pembelajaran, maka perlu mencari alternatif pembelajaran yang lebih mampu mengatasi semua persoalan pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pendekatan konstruktivistik yang telah diuraikan. Pendekatan ini menghargai perbedaan, menghargai keunikan invidu, menghargai keberagaman dalam menerima dan memaknai pengetahuan.
Alkitab seringkali menyebutkan berbagai cara Tuhan Yesus mengajar, ada khotbah di bukit, berdialog dengan para ahli taurat di dalam bait Allah pada usia 12 tahun, berjalan bersama dua orang murid ke Emaus, pada peristiwa perempuan yang melacurkan diri dan banyak lagi, semua itu merupakan pembelajaran yang merupakan perwujudan dari pembelajaran konstruktivistik. Pembelajaran yang membuat pebelajarnya membangun maknanya sendiri, bukan mentranfer makna/pengetahuan.
(Dina Gasong, Mahasiswa Teknologi Pendidikan, PPs UNJ)
b. Hakikat pembelajaran Konstruktivisme
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata,
Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/psikologi-belajar/model-pembelajaran-konstruktivistik
Pembelajaran
Posted on 01/10/2009 by mgmpjawapemalang
Pembelajaran Konstruktivistik
Konstrukstivisme merupakan salah satu aliran filsafat yang menekankan bahwa pengetahuan seseorang merupakan hasil konstruksinya sendiri. Pengetahuan bukan merupakan imitasi dan kenyataan, juga bukan gambaran atas kenyataan yang ada, melainkan akibat konstruksi kognitif dan kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas (Bettencourt, 1989).
Konstruktivis memandang belajar sebagai proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang dipelajari dengan pengertian yang telah dimiliki sebelumnya sehingga pengetahuan dapat lebih berkembang. Pembelajaran bukan kegiatan memindahkan pengetahuan darin guru kepada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa berkesempatan membangun sendiri pengetahuannya. Dalam paham mi, pembelajaran mensyaratkan adanya partisipasi guru dan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi (Bettencourt, 1989). Dalam membangun pengetahuan, siswa mengonstruksi skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang berbeda-beda. Dalam hal ini proses abstraksi dan refleksi siswa mempengaruhi konstruksi pengetahuannya.
Asumsi sentral metode konstruktivisme adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun pelatih menyampaikan sesuatu kepada peserta didik, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk dalam pemahaman mereka. Konstruktivisme dimulai dan masalah (sering muncul dan peserta didik sendiri) dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivisme didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
Dalam pembelajaran yang didasarkan pada konstrukstivistik, tugas guru membantu siswa agar mampu mengonstruksi pengetahuannya sesusai dengan situasi yang konkret. Oleh sebab itu, tugas guru dalam proses pembelajaran menjadi lebih berat karena dituntut menguasai materi ajar secara luas dan mendalam. Selain itu, guru dituntut memiliki dan menguasai berbagai ragam strategi pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa. Guru dituntut pula untuk memiliki intuisi yang tajam agar dapat mendeteksi strategi yang seharusnya diterapkan dalam suatu kondisi pembelajaran.
Piaget dan Vigotsky (dalam Nur dan Wikandari, 2001:3), menekankan bahwa perubahan kognitifhanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam upaya memperoleh informasi baru. Untuk itu dalam konstruktivistik terdapat empat aspek yang penting dalam pengembangan perubahan yang bertumpu dan aspek sosial dalam belajar. Keempat aspek itu adalah: (a) pembelajaran sosial, (b) zona perkembanagn terdekat, (c) pemagangan kognitif, dan (d) dukungan tahap demi tahap dan pemecahan masalah.
Dalam konstruktivistik, peserta didik seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik. Kemudian mereka diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya, simulasi, penyelidikan di masyarakat, menulis untuk dipresentasikan ke pendengar sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya (diambil dan kehidupan nyata).
Selain itu dalam pengajaran konstruktivistik lebih menekankan pada pembelajaran top-down daripada bottom up. Top-down yang dimaksud di sini adalah masalah-masalah kompleks dipecahkan peserta didik terlebih dahulu kemudian menemukan keterampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh peserta didik diberikan konsep dasar paragraf barn kemudian menganalisis kalimat, mengeja, tata bahasa, dan tata bacanya. Sebaliknya bottom up lebih menekankan keterampilan dasar untuk mewujudkan yang lebih kompleks.
Pembelajaran yang bernaung dalam konstruktivistik adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dan konsep bahwa peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (4 orang dalam satu kolompok) untuk saling membantu memecahkan masalah masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.
Kooperatif dilakukan dengan empat peserta didik yang berbeda-beda dan segi kemampuan atau ukuran kelompok. Peserta didik ditempatkan ke dalam kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa han. Mereka dilatih keterampilan khusus untuk membantu mereka dapat bekerja sama dengan baik, memberikan penjelasan dengan baik, dan mengajukan pertanyaan dengan baik.
Dalam kooperatif terdapat berbagai metode sebagai berikut:
(1) Student teams—Achievement Divisions (STAD), yang menggunakan satu langkah pengajaran di kelas dengan menempatkan peserta didik ke dalam tim campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan suku. Akhimya seluruh peserta didik dikenai problem (kuis) berkaitan dengan materi dan sesama anggota tim, saat mengerjakan kuis, peserta didik tidak boleh saling membantu;
(2) Team-Assisted Individualization (TAI) yang lebih menekankan pengajaran individual meskipun tetap menggunakan pola kooperatif
(3) Cooperat Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah bagian metode kooperatif komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca dan menulis kelas tinggi. Dalam CIRC, peserta didik dikelompokkan berdasarkan perbedaan masing-masing sebanyak empat orang. Mereka terlibat ke dalam rangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lainnya, menulis tanggapan terhadap cerita, saling membuatkan ikhtisar, berlatih pengejaan, serta perbendaharaan kata.
(4) Jigsaw. Dalam jigsaw, peserta didik dikelompokkan dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Misalnya, dan enam orang anggota kelompok saat mempelajari tema tokoh besar, masing-masing mempelajari riwayat hidup, prestasi awal, kemunduran yang dialami, dampak dan kiprahnya. Kemudian para peserta didik kembali ke timnya dan bergantian menceritakan hasilnya.
(5) Belajar bersama (Learning Together), metode mi melibatkan peserta didik yang bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima peserta didik heterogen untuk menangani tugas tertentu. Kemudian mereka melaporkan tugas itu. Metode belajar bersama lebih mengarah pada pembinaan kerjasama dan keberhasilannya.
(6) Penelitian Kelompok (Group Investigation) merupakan rencana organisasi kelas umum. Peserta didik bekerja dalam kelompok kecil dengan menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan serta proyek kooperatif.
Istilah ‘kooperatif’ mengisyaratkan adanya aktivitas belajar dalam kelompok. Namun, pembentukan kelompok bukan merupakan tujuan utama proses pembelajaran yang dikembangkan. Pembentukan kelompok tersebut merupakan modifikasi tujuan pembelajaran dan yang sekadar menyampaikan informasi menjadi konstruksi pengetahuan secara indiovidual dalam kelompok. Pembentukan kelompok itu merupakan strategi agar siswa dapat berbagi pendapat, berargumentasi, dan mengembangkan berbagai alternatif pandangan dalam upaya mengontruksi pengetahuan (Suhartono, 2006:170).
Model pembelajaran kooperatif ditandai ciri-ciri berikut, (a) siswa belajar dalam kelompok-kelompok dan terikat oleh rasa saling bergantung dalam proses belajar. Penyelesaian tugas kelompok mewajibkan anggota kelompok saling bekerjasama; (b) interaksi intensif secara tatap muka; c) tiap-tiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah ditentukan; (d) siswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.
Jigsaw merupakan satu di antara tida bentuk model pembelajaran kooperatif dua bentuk yang lain adalah Student Team Achievement Division (STAD) dan Team Games Tournament (TGT). Model pembelajaran kooperatif-jigsaw mempersyaratkan adanya materin ajar tertulis yang dapat dipelajari siswa. Kemampuan individual siswa untuk menjadi pasangan (peer) tutur bagi teman sekelompok merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Tiap kelompok terdiri atas beberapa siswa yang memiliki karakteristik heterogen, misalnya dan segi kemampuan akademis, latar belakang sosial-budaya, dan jenis kelamin. Empat kegiatan pokok yang dianjurkan dalam Jigsaw adalah (1) siswa membaca dan mengkaji materi pembelajaran yang bersifat heterogen pada kelompok asal, (2) diskusi kelompok ahli dengan materi yang bersifat homogen, (3) diskusi kelompok asal dengan modal “oleh-oleh” dan diskusi kelompok ahli, (4) tes/kuis atau silang tanya antar kelompok, dan (5) refleksi dan penguatan dari guru.
PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA JAWA YANG INOVATIF
DI SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
(Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)
Setya Yuwana Sudikan